Main Sendiri

Judulnya memang multitafsir. Tapi coba baca dulu sampai beres ya. Seperti kata pepatah: Don’t judge an isi by its judul. Belum pernah denger kan? Iya, pepatahnya barusan banget dibikin.

Main banyakan emang asik, terutama bareng temen. Kalo bareng musuh sih namanya perang. *apasih* Tapi bukan berarti kalo main sendiri ga asik, apalagi kalo gapunya temen ga ada temen yang bisa diajak maen.

Maen apaan, btw? Saya persempit langsung aja ke main musik. Main musik, maksudnya memainkan sebuah lagu dengan alat musik (ya iya lah) selalu asik kalo barengan. Ada istilahnya jamming. Asik banget dah bisa saling melengkapi dalam main musik. Tapi ga selalu ada orang yang nyaman main musik barengan, ada juga yang doyan main musik sendiri. Nah, gimana kalo orang yang biasanya main musik ini pengen bisa maen bareng, tapi kebetulan ga punya temen ga ada temen (atau seengganya belum ada) yang bisa diajak maen musik bareng?

Dulu saya punya masalah kaya gini. Biasa main sendiri, begitu pengen maen bareng, ga ada temen. Bingung. Gimana caranya bisa main musik bareng tapi orangnya tetep sendiri? Akhirnya  nemu satu cara jitu yang  saya cobain sendiri, dan ternyata asik juga! Gini caranya:

1. Kamu cuma butuh DUA buah perekam.

Udah.

Hey, apaan cuma segitu! Iya iya sabar, tetep baca ya.

Perekam yang saya maksud, bisa perekam apa aja. Mau yang konvensional, dari hape atau apapun. Saya saranin sih pake hape. Karena lebih simpel. Setiap hape ada perekamnya kok. Kalo kamu punya smartphone, kualitasnya bisa bagus. Jadi lebih bagus kalo diputer ulang.

Selanjutnya, rekam apapun yang kamu pengenin di perekam pertama. Bisa suara vokal, gitar, apa aja teserah. Sesuai sama lagu yang kamu mau tentunya. Anggap rekaman yang kamu hasilkan ini sebagai satu orang yang memainkan musik.

Nah, di perekam kedua, rekam hasil rekaman yang direkam sama perekam pertama. Sambil perekam pertama muterin rekaman, tambah suaranya dengan vokal lagi, atau gitar lagi atau apapun. Sesuain posisi suaranya supaya bisa support rekaman pertama. Contoh: di rekaman pertama kamu ngisi bagian gitar. Aktifin perekam kedua sambil puter rekaman pertama. Saat perekam kedua berjalan, tambah suara vokal kamu. Dan… JRENG! Di perekam kedua, kamu kaya denger dua orang lagi main musik di satu waktu. Atau kamu main instrumen berbeda di waktu yang sama. Gampang kan?

Kalo masih kurang, rekam rekaman dari pemutar kedua pake perekam pertama sambil kamu nambahin suara instrumen lainnya. Begitu seterusnya, bulak balik aja. Saran saya biar kualitas suaranya ga begitu berubah (karena hasil rekaman yang direkam sama perekam lain pasti kualitasnya beda… terlalu banyak kata “rekam” di sini) dekatkan langsung mikrofon perekam  dengan speaker perekam lainnya.

Ada kekurangannya sih pake cara ini. Kamu harus udah punya gambaran lagunya mau kaya gimana. Dan kalo mau ngubah rekaman yang udah jadi, bakalan harus ngulang dari awal. Kesulitan ini bakal dialamin sama kamu yang ngerekam lebih dari dua suara. Jadi… Teliti ya sebelum merekam hehe. Overall, cara ini cukup murah (karena perekam kedua bisa minjem ke orang di rumah… Pada punya hape kan di rumah?) dan menyenangkan.

Happy jamming (with yourself)!

Advertisements

Zombie in Real Life

image

Zombie digambarkan sebagai sesosok makhluk hidup yang akibat diinfeksi virus (entah virus apa) menyebabkan beberapa perubahan terhadap fisik si pengidap. Kebanyakan perubahan fisik tersebut seperti pada gejala infeksi kebanyakan: borok, nanah, pembusukan, tapi yang paling mendasar adalah infeksi pada otak yang membuat si pengidap kehilangan kesadaran dan kepribadian, serta kehilangan kendali pada tubuhnya.

Masih ga bisa dijelaskan (namanya juga fiksi sih, ya pasti awalnya ga nyata) gimana virus ini akhirnya mengambil alih tubuh si pengidap dan membuat mereka seperti hewan yang hanya bertujuan untuk bertahan hidup dengan mengonsumsi otak (kenapa harus otak yah) makhluk hidup yang belum terinfeksi virus. Intinya, manusia atau makhluk hidup sebenarnya sudah mati, dan yang membuatnya tetap hidup hanyalah sebagian organ tubuhnya yang masih berfungsi (kalo liat di film). Ada kan film serinya yang berjudul “The Walking Dead”, cukup tepat buat gambarin kondisi zombie tersebut.

Dalam setiap film zombie selalu diceritakan kondisi dunia dalam situasi ” Zombie Apocalypse”, di mana kebanyakan manusia terjangkit virus dan menjadi zombie, memburu setiap manusia yang belum terjangkit virus. Orang-orang yang belum terjangkit aka Survivors berjuang menyelamatkan diri mereka dari serangan zombie, baik secara individu maupun kelompok, dan ga pernah jelas akhir dari cerita film seperti ini (awalnya selamat kan) apakah nanti mereka mati juga jadi zombie atau mereka menemukan anti-virus zombie dan menyelamatkan dunia. Kebanyakan ya gitu.

Tapi kalo boleh jujur, “The Walking Dead”, bukan cuma cerita rekayasa semata. Ini benar-benar terjadi di dunia ini, dalam waktu yang cukup lama. Bahkan hinggga detik ini! Mengapa?

Saat ini banyak sekali manusia yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, yang membuat mereka cenderung tidak berpendirian diri, alias kosong. Kondisi kosongnya tujuan hidup seseorang ini dimanfaatkan oleh banyak oknum di dunia ini yang kemudian memasukkan pengaruh-pengaruh laten ke dalam pikiran hingga alam bawah sadar mereka melalui media cetak, elektronik, sosial, budaya, politik dan hampir semua aspek kehidupan lainnya.

Si oknum tersebut, bekerja seperti ” virus” yang “menggerogoti” pikiran pengidap kekosongan tujuan ini dan “mengambil alih” tindakan dan perilaku mereka, secara terstruktur, bahkan tanpa disadari oleh si pengidap.Persis, seperti zombie. Bedanya, mereka tidak harus cacat fisik ataupun benar-benar sakit secar fisik. Mereka sehat, tapi pikiran mereka “dikendalikan”, tanpa ada kesempatan bagi mereka untuk menyadari tentang diri mereka sendiri.

Rerata “target” dari “the walking dead” ini adalah golongan remaja yang memang masih mencari jati diri, masa transisi dari masa kanak- kanak menuju dewasa, dimana di masa-masa ini sangat mungkin terjadi vacuum of personality. Mereka cenderung memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat, bahkan tak terbendung oleh diri mereka sendiri, yang menyebabkan mereka akan mencoba banyak hal. Di sinilah peran orang tua mengontrol (bukan membatasi) aktifitas anak-anak mereka, agar  jangan sampai keingintahuan anak-anak mereka tidak berakibat positif dan produktif. Rentan sekali pengaruh dari oknum oknum yang telah disebutkan sebelumnya, masuk kedalam kepribadian anak. Mereka akan tumbuh dengan “virus” yang ditanamkan oleh oknum-oknum itu, dan seperti zombie, selain tak kuasa mengendalikan dirinya (dengan kesadaran dan kepribadian yang kuat), mereka juga akan “menginfeksi” orang lain. Benar-benar seperti “zombie apocalypse” sesungguhnya, dan kalo boleh jujur, ini jauh lebih mengerikan!

Maka, sebelum situasi bertambah buruk, perlu tindakan preventif yang dilakukan sejak saat ini agar tak menghasilkan generasi “terinfeksi” di masa mendatang. Orang tua, selalu dan akan selalu menjadi garda terdepan dan utama untuk “melakukan imunisasi” terhadap putra-putri mereka agar tak terpapar “virus” sejak dini. Pengajaran dan pembentukan pribadi yang memiliki budi pekerti yang baik, serta akhlak yang sempurna, harus berawal dari keluarga. Sehingga ketika anak dihadapkan pada dinamika masyarakat, ia memiliki pendirian kuat dan terjaga dari kondisi “kosong”.

Selanjutnya adalah dari dunia pendidikan. Bagaimana pelajar tidak hanya dididik menjadi orang yang cerdas otaknya, namun juga cerdas hati nurani. Faktanya, cerdasnya otak tak berbanding lurus dengan kepribadian seseorang. Tak jarang ditemukan murid yang berprestasi di bidang akademik namun memilili perangai yang buruk. Sistem pendidikan yang mensinergiskan ilmu pengetahuan dengan akhlak (telah diusung sebelumnya dalam konsep IMTAQ) wajib untuk terus disempurnakan, agar penerus bangsa ini tak lagi jadi “penjahat berpendidikan”.

Yang tak kalah penting lagi adalah peran pemerintah sebagai regulator, perlu memperhatikan juga kondisi generasi muda bangsa. Cukup banyak mereka yang berprestasi akademik dan non akademik, serta berakhlak mulia, tak mendapatkan kesempatan untuk turut membangun bangsa (malah dimanfaatkan negara lain), karena minimnya apresiasi dari pemerintah. Contohnya saja mereka yang memiliki kiprah pembuat robot dan telah memenangkan berbagai penghargaan di negeri orang, tak “dibujuk” untuk mengaplikasikan ilmu mereka pada generasi muda di negeri kita. Akibatnya negara kita masih stagnan dibanding negara lain yang sangat cepat perkembangannya dalam menghasilkan robot. Pemerintah juga perlu lebih bijak melihat tawaran kerjasama dari negara lain. Sebisa mungkin, benefit yang terasa bagi kita harus lebih besar, tanpa harus mengesampingkan hubungan baik dengan negara tersebut. Membina kerjasama antar negara tentu baik, namun bukan bermaksud suuzan, negara tersebut pasti memiliki agenda tertentu dalam penawaran tersebut. Hendaknya pemerintah dapat bijak dalam hal ini, apakah tawaran tersebut memang menguntungkan atau malah “jebakan”, yang membuat negara kita terpuruk.

Tak perlu kita mempersiapkan persenjataan serta kendaraan khusus untuk menghadang ” zombie apocalypse” ini. Apalagi sampai saling membunuh. Cukup bina iman, akhlak dan pribadi generasi muda kita ke arah yang lebih baik, sudah lebih dari cukup.

Semoga, “Zombie Apocalypse” tidak semakin meluas terjadi di negara ini, dan semoga, bangsa kita menjadi pionir untuk “anti-virus” yang disebarkan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Aamiin. Terakhir, saya ingin mengutip perkataan seorang ilmuwan dan salah satu pendiri negara Amerika, Benjamin Franklin: “Banyak orang sudah meninggal di usia 25 tahun dan tidak dikebumikan hingga usia 75 tahun”.

Selamat bekerja!

Sorry Seems To Be The Hardest Word

“Maaf, tadi saya bla bla bla jadi saya bla bla bla…”, atau “Maafkan saya, karena saya acara ini bla bla bla…”.

Seberapa sering kita mengucap maaf?

Manusia memang makhluk yang tidak pernah lepas dari kesalahan. Itu sudah takdirnya. Bahkan, (versi ekstrimnya)tidak berbuat salah itu justru tidak manusiawi. Kita adalah makhluk pembelajar –dengan anugrah akal yang kita miliki– sehingga kita tidak lahir ke dunia ini dengan bekal ilmu setingkat ensiklopedi 30 jilid. Bayangkan bila itu terjadi. Seorang bayi yang baru lahir sudah mampu berfilsafat layaknya Socrates. Ibu bayi tersebut bukannya bangga, malah mungkin saja pingsan ditempat.

Dalam proses belajarnya, manusia banyak bereksperimen. Ketika seseorang mencoba memetik mangga dan kemudian dia diserang koloni semut, maka keesokan harinya dia tidak mungkin akan memakai cara yang sama untuk memetik mangga. Mungkin dia akan menyiapkan insektisida terlebih dahulu (siapa tahu semut-semut itu menyerang lagi). Atau bila ia termasuk pencinta hewan, ia akan memakai jas hujan dan sarung tangan. Yang jelas, orang ini punya persepsi baru dalam memetik mangga: Hati-hati akan serangan semut. Bisa kita katakan, dia telah melalui proses pembelajaran. Akhirnya, dia punya pengetahuan baru yang mungkin akan dia anut sampai ia sebarkan ke anak cucunya.

Dengan contoh tadi, jelas, manusia memang (kadang) harus mengalami kesalahan terlebih dahulu untuk mencapai sebuah kebenaran (teori Empirisme). Dan kesalahan pun bisa jadi tidak cukup sekali. Pernah baca atau dengar bagaimana Thomas Alfa Edison menemukan lampu pijar? 999 dari 1000 kali percobaannya adalah sebuah proses yang bisa dibilang merupakan “kesalahan”. Namun, kesalahan tersebut bersifat konstruktif, artinya, ia tidak mengulangi kesalahan yang sama (kalaupun mengulang, sangat jarang) sehingga kesalahan yang ditimbulkan memang karena ia belum paham akan hal baru yang dibutuhkan dalam penemuan tersebut. Sekali lagi, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dalam hal ini, kesalahan justru membuat seseorang mengalami peningkatan kemampuan.

Dalam realita, kadang-kadang manusia sendiri tidak mau toleransi atas kesalahan tersebut. Mereka menginginkan segalanya berjalan dengan baik, tanpa noda, tanpa jeda, sempurna. Ketika kesalahan itu terjadi, maka sebagian budaya di dunia ini mengharuskan si bersalah meminta maaf sebagai bentuk pengakuan atas kesalahannya.

Akhirnya, minta maaf menjadi sebuah hal yang biasa, ketika kita berbuat salah. Orang-orang pun biasanya akan memaklumi kesalahan si bersalah, dengan alasan yang telah disebutkan di awal tadi. Namun, lain ceritanya jika terjadi pengulangan kesalahan yang sama. Orang-orang tentu meragukan, apakah dia tidak belajar atas kesalahan yang sama, yang dia perbuat sebelumnya? Apakah dia orang yang tidak mau berubah? Sebagian orang ada yang tetap maklum akan kesalahan yang sama (ciri orang yang sabar). Sebagian lagi, sudah jelas akan kehilangan rasa percaya dari si bersalah. Akhirnya, orang tersebut enggan untuk berkomunikasi lagi dengan si bersalah.

Pada saat itu, permintaan maaf menjadi sangat sulit untuk dilontarkan. Tiada lagi kepercayaan. Langit serasa runtuh. Namun, ini tentu bukan final. Bila kita cukup teguh, maka kita akan lakukan cara lain, semisal memohon, memelas, melakukan apapun yang bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan orang lain. Beberapa orang mungkin luluh, meskipun rasa percaya tersebut tidak lagi seperti masa-masa mereka mempercayai kita pertama kali. Orang-orang yang “tidak toleran”, mungkin akan langsung memalingkan muka, melepas jabatan tangan kita, atau melepas pegangan kita dari kaki mereka (terlalu sinetron).

Jadi… apa inti dari tulisan ini? Hehe… mungkin terlalu berbelit-belit ya? Sebenarnya, saya hanya ingin mengutarakan kalimat berikut: Mungkin maaf akan menjadi sesuatu yang mahal suatu saat nanti. Tapi ketahuilah, kita tidak akan pernah lepas dari kesalahan, maka, mari kita saling memaafkan 😀

Smoking Ladies?

Saat SMA, lingkungan saya cenderung tertutup. Yang saya liat hal-hal yang itu-itu aja. Karena saya dari SMA favorit (bukan sombong nih), lingkungannya pun cenderung teratur. Apalagi saya ikutan DKM di SMA, ya udah, adem deh hati ini. Pelanggaran yang saya liat masih gue anggap wajar. Maklum, anak SMA kan lagi beger-begernya. Biarpun memang ada yang ekstrim (sudah termasuk kriminal tingkat tinggi), tapi toh saya belum pernah melihatnya secara langsung. Alhamdulillah, kehidupan SMA saya kira damai-damai saja, dan saya pun berpikir demikian dengan lingkungan kuliah nanti.

Namun, setelah menduduki jenjang perkuliahan, banyak yang membuat saya tercengang. Banyak sekali hal-hal yang belum pernah saya lihat (dan tidak saya harapkan), terjadi begitu saja. Yang saya garis bawahi adalah budaya merokok. Memang benar, sudah umum bila anak kuliahan merokok. Gue udah kuliah, gitu loh. Udah dewasa gitu loh. Masa sih ga ngerokok? Mungkin begitu pikir mereka. Ketika SMA, teman-teman sudah lumayan banyak yang merokok. Namun untuk merokok mereka tidak bisa sebebas saat di kampus. Minimal mereka harus merokok di radius 20 m dari sekolah, bila tidak ingin terjerat hukuman. Berbeda dengan di kampus. 30 cm dari pintu kelas pun orang-orang dapat merokok dengan bebas. Bahkan tak jarang, setelah kelas berakhir, ada yang menyalakan rokok di dalam kelas (tentu setelah dosen meninggalkan ruangan). Itu hal yang biasa, bagi kebanyakan orang. Sayangnya, saya tidak.

Seperti yang telah saya ketik di atas (saya tidak benar-benar berbicara, bukan?), saya dari lingkungan yang cenderung tertutup, homogen dan berbau religius. Tentu  budaya merokok yang bebas ini menjadi sebuah culture shock bagi saya. Apalagi pikiran saya sudah didoktrin untuk membenci rokok, karena sudah jelas merokok itu sama sekali tidak menguntungkan. Ingat “kata-kata manis” yang selalu muncul setiap iklan rokok habis ditayangkan? Menurut saya, bila para perokok itu mau menggunakan nalarnya sedikiiit saja, setidaknya mereka berpikir 539.475 (angka ngasal) untuk mengkonsumsi sebatang rokok. Kenyataannya? Merokok memang membuat orang-orang menjadi apatis dan (maaf), bodoh. APATIS, mereka merokok dimana saja tanpa peduli apakah orang lain disekitarnya akan merasa terganggu dengan kepulan asap yang mereka timbulkan. BODOH, karena mereka bahkan tidak ambil pusing dengan peringatan yang TERTERA LANGSUNG DI BUNGKUS ROKOKNYA. Walaupun demikian, semua hal tersebut sudah mengakar, mau bagaimana lagi. Kita (non-perokok) hanya bisa berharap  semoga teman-teman kita atau orang yang kita sayangi mendapatkan hidayah-Nya agar menjauhi rokok tersebut.

Sampai situ masih terbilang “wajar”. Ternyata, saya benar-benar masih terlalu dangkal dalam melihat fenomena masyarakat sekarang. Kiamat mungkin tidak akan terjadi tahun 2012, tapi dapat dipastikan sebentar lagi. Bagaimana tidak? Ternyata, ada juga WANITA yang MEROKOK. Saya kira ini sudah tidak wajar. Wanita merokok? Please deh!

Hemat saya, wanita yang merokok bisa tergolong KRIMINAL. Mengapa? Karena mereka tidak hanya merusak diri mereka sendiri dan orang lain, tapi juga PENERUS BANGSA yang ada dalam rahim mereka. Betapa kejamnya orang-orang yang menihilkan penerus bangsa. Siapa yang akan meneruskan cita-cita negara ini bila tiada lagi regenerasi?

Bisa dipahami, wanita yang merokok sudah barang tentu bukanlah wanita yang baik-baik. Mereka tidak lagi peduli pada tanggungan di rahim mereka, yang pada wanita yang masih memiliki rasa keibuan (ini fitrah wanita), sejahat apapun mereka tidak akan mencelakai anak sendiri. Gizi si anak sudah diperhatikan sejak hamil awal. Jadi untuk para pria, jangan pilih wanita perokok sebagai pendamping hidup kalian. Biarkan dia jomblo seumur hidupnya, hingga tobat dari dunia “kepul-kepul”

Sungguh miris fakta yang saya lihat tersebut. Di dekat kampus, tepatnya di sebuah kafe, saya pernah melihat sekumpulan wanita karir sedang ngobrol-ngobrol sambil merokok. Lebih ekstrim, saya juga pernah melihat seorang nenek-nenek merokok sambil berjalan dengan santainya. Paling ekstrim, baru-baru ini, saya melihat dengan mata kepala sendiri, seorang wanita yang berjilbab, merokok. Mengerikan. Sungguh mengerikan. Hal yang bahkan tak pernah terbersit sedikit pun di kepala saya. Saya hanya berharap, mimpi buruk itu jangan sampai terjadi: Jumlah perokok wanita MENYAMAI perokok pria, apalagi MELEBIHI.

Allahuma innii zhalamtu nafsi, faghfirlii, fa innahuu laa yaghfiruz zunuuba illa anta. Aamiin.

Ditulis 25 Oktober 2010

UAN’s Mumbling

UAN,
Duhai pembuat keder jiwa
duhai pembuat pening kepala
duhai pembuat hilang rasa

3 tahun yang lalu, cerianya aku
bertemu dengan teman baru
guru baru
pelajaran baru dan pengalaman
yang juga baru

3 tahun lalu, kurasakan hidupku sulit
pelajaran di kelas makin rumit
remedial bikin morat-marit
akhirnya jatuh ke parit, eh salah
nilai di rapot bikin sakit

Tapi, dikala duka, dikala terluka
ku masih bisa tersenyum bahagia
bersama teman bercanda tawa
melepas penat di dada

itulah, awal aku mengenal kehidupan SMA…

3 tahun kini berlalu
bahan pembicaraan tak lagi lagu
tak lagi game baru
tapi bagaimana jurus jitu
mengerjakan soal latihan
yang jumlahnya beribu-ribu

Untuk apa sedemikian rupa?
Belajar hingga pagi buta?
Bimbel hingga menguras tenaga?
Mengisi waktu dengan soal-soal logika?
Semua hanya untuk, CITA-CITA…

Kini, di depan mataku, matanya
mata kami, mata mereka
selembar soal penuh makna
menentukan langkah kami
selanjutnya

Dan setelah UAN pun kami
belum selesai sampai disini
masih banyak medan yang kami lalui
namun setidaknya…

UAN ini akan membekas di hati kami
cerita untuk anak cucu nanti
tentang berlikunya hidup ini…

SEMANGKA!

*UAN: Ujian Akhir Nasional

Ditulis tanggal 24 Maret 2010,

ketika saya masih duduk di bangku SMA, sekitar hari ke-3 Ujian Nasional.

“Hell’s Wind”

Pagi ini, udah ga keitung berapa kali gue ngeluarin “angin neraka”. Orang-orang rumah pada protes, marah ampe sumpah serapah (lebay oge sih), pagi-pagi bukannya ngasih oksigen malah ngasih “gas metana”. Awalnya gue nyengir-nyengir kuda, tapi lama-lama gue pun mulai ga nyaman dengan baunya. Makan apa sih gue tadi malem? Telor, ngga tuh. Jengkol pete, sori ga level. Terus apa ya?

Sambil mikirin makanan tadi malem, pikiran gue bercabang kemana2. Gue jadi merenung. Kebayang gue ga bisa ngeluarin ntu “angin neraka”. Orang-orang ampe berobat jutaan rupiah (ato ribuan dollar) ke luar negeri, hanya untuk bisa “ngeluarin”. Tau penyakit angin duduk? Masalahnya sepele, cuma karena ga bisa ngeluarin “angin neraka” tersebut. Tapi penderitaannya luar biasa. Konon, si penderita bisa mati kalo ga cepet-cepet ditangani! Hih, serem juga ya. Gue masih bersyukur hari ini masih bisa “ngeluarin”

Soal baunya, biarpun bikin ilfeel, gue prefer nyium “angin neraka” ketimbang asap rokok sama asap knalpot. Lu di dalem ruangan dan ngehirup “angin neraka” dalam jumlah yang banyak, paling-paling lu pusing ato mual, itupun jarang terjadi. Tapi bandingin kalo lu nyium asap knalpot ato rokok. Paru-paru lu rusak, otak lu rusak, dan muncul berbagai macem komplikasi penyakit. Jadi sodara-sodara, kalo ada orang “ngeluarin” itu jangan protes. Toh situ juga “ngeluarin”, dan “gas emisi” tersebut jauh lebih aman ketimbang asap rokok, asap knalpot, asap pabrik dll.

Gue jadi ga ngerti, gue pernah baca di koran dua orang bertengkar hebat gara-gara perkara “angin neraka”. Padahal kalo mo tau, “angin neraka” sebenernya bisa bikin persaudaraan makin erat lho! Lho? Bukannya sebaliknya? Lu gimana sih, Jab?? Eh, ntar dulu. Emang sekilas yang menghirup mungkin protes ato kesel, tapi akhirnya yang “ngeluarin” dan yang menghirup pun tertawa bersama (dalam hal ini, bila keduanya sudah saling kenal). Tertawa bersama membuat persaudaraan kita makin erat, di samping ketawa itu menyehatkan hehehe.

Akhirnya pikiran tentang “angin neraka” itu berakhir dengan ingetnya gue ama makanan tadi malem. Martabak Telor! DOH! Pantes ajah… Dan gue ga ngitung udah berapa kali gue ngeluarin “angin neraka” selama merenung tadi. Yah, tapi gue bersyukur. However, Allah ga pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.

 

Ditulis 10 Juli 2010

Regretness Come… At The Middle?

Kita menyesal ketika, kita tidak mendapati diri kita melakukan atau merasakan sesuatu yang sejak awal kita inginkan. Dan sudah rahasia umum (atau mungkin pengetahuan umum), bila penyesalan selalu datang di akhir. Di akhir waktu. Di penghujung waktu. Habis sudah (kok jadi kaya lagu Efek Rumah Kaca -,-). Intinya, kita merasa bahwa harapan untuk melakukan/mendapatkan/merasakan hal tersebut sudah tidak ada lagi. Namun, yang lebih bikin sedih lagi, meskipun kita nangis darah, guling-guling di tanah, sibuk mencacah, kaca pun pecah (udah mulai ga nyambung), penyesalan GA AKAN MERUBAH APAPUN. Perasaan kita sakit, sakit sekali dan rasanya dada ini mau pecah bila memikirkannya. Karena itulah tidak ada seorang pun yang menginginkan sebuah penyesalan. Di samping penyesalan merupakan perbuatan dosa, karena menyesal berarti kita tidak mensyukuri apa yang kita dapatkan.

 

Namun ada juga sebuah trik jitu untuk mencegah penyesalan. Tentunya bukan berlaku dingin atau acuh, apalagi pura-pura ga tau sampe naro tangan di jidat dan dengan nada-nada panik mulai komat-kamit, “Dimana aku? Siapa aku? Apakah aku?”.

 

Triknya adalah: Menyesallah duluan. Lho? Kok bisa? Ngelakuin aja belum, ko udah nyesel? Tentu maksudnya bukan nangis darah demikian rupa seperti itu. Namun bayangkanlah ketika kita tidak mampu melakukannya, dengan asumsi akibat dari usaha kita yang belum optimal. Bayangkanlah kegagalan. Namun jangan terlalu lama, karena bukannya menghilangkan penyesalan malah akan menghancurkan semangat. Pikirkanlah sesaat saja, kemudian dari hasil bayangan tadi, kita jadi tahu apa yang harus kita lakukan untuk menghindari kegagalan tersebut. Poin plusnya, semangat kita menguat, kerjaan selesai dengan cepat, keinginan kita pun didapat. Akhirnya, si penyesalan harus melarat (terus aja pakai akhiran -at)

 

Lalu, adakah penyesalan di tengah-tengah? Sebenarnya itu mungkin saja terjadi, tergantung bagaimana kita melihatnya. Pada dasarnya, penyesalan selalu terjadi di akhir. Namun bila dari penyesalan tersebut muncul sebuah keyakinan baru untuk melanjutkan kembali, maka kita bisa katakan bahwa orang tersebut menyesal di tengah prosesnya. Sekali lagi, ini hanya masalah pandangan.

 

(NB: Paragraf terakhir sebenernya tidak terlalu penting, tapi karena “menyesal di awal” dan “menyesal di akhir” sudah menjadi judul yang umum, maka jalan tengahnya adalah judul “menyesal di tengah-tengah”. Tentu judul mewakili isi, karena itulah paragraf terakhir dibuat, meskipun bukan fokus utama dari artikel ini :D)